Mendengar berita dari Leluhur Sekte Api Langit membuat Lynx mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia bisa menebak betapa besar artinya insiden ini, bukan hanya untuk sekte, tapi juga bagi keselamatan dunia.

"Dan aku yakin anakku tidak mungkin memindahkannya. Dia tahu risikonya. Dia tahu bahayanya," lanjut Leluhur, suaranya mulai bergetar.

"Lalu bagaimana, Leluhur?" tanya Lynx, nadanya tenang namun penuh tekanan.

"Beberapa tetua bersaksi bahwa satu cincin milik anakku hilang saat jasadnya ditemukan. Aku telat menyadarinya. Cincin itu adalah kunci khusus untuk membuka ruangan itu dan  hanya kunci itu hanya ada dua, termasuk ini." leluhur mengeluarkan sebuah cincin dari cincin penyimpanan dan menunjukkannya ke Lynx. Tidak ada yang istimewa dari cincin itu, namun Lynx bisa merasakan terdapat qi spiritual dan formasi di dalamnya.

“Pencuri itu...” suara Leluhur Sekte Api Langit terdengar berat, namun kali ini diselimuti kemarahan yang tidak bisa ditahan, “dia bukan hanya tahu letak ruang rahasia itu, tapi juga memahami bagaimana membukanya.”

Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Kemarahannya membubung seiring kata-katanya yang semakin tegas.

“Orang yang mencuri cincin itu dan mengambil kunci dimensi... dialah pembunuh anakku yang sebenarnya.”

Lynx memandang Leluhur dengan penuh perhatian. Cahaya redup dari lentera membuat bayangan wajahnya bergerak pelan, namun tatapannya tetap tajam dan serius.

“Apakah Leluhur memiliki dugaan siapa pelakunya?” tanyanya pelan.

Leluhur menggeleng lambat, rahangnya mengeras seolah sedang menahan emosi yang hendak meledak.

“Inilah yang membuat kepalaku nyaris pecah. Ada tiga nama yang membuatku curiga. Huang Jian si bajingan tua yang berkhianat, Tetua Xie Lian yang tiba-tiba lenyap begitu saja, dan satu lagi… seorang guru bernama Yang Lin.”

Ia mendengus kesal, lalu melanjutkan, “Tapi Huang Jian… jika memang dia pelakunya, kenapa dia masih membuat keributan di sekte dan bahkan mengancam para murid? Rasanya tidak masuk akal.”

“Guru Yang Lin?” Lynx memicingkan mata, mencoba menggali ingatannya. “Aku rasa... aku belum pernah bertemu dengannya. Mengapa Leluhur mencurigai dia?”

Leluhur menarik napas panjang sebelum berbicara lagi. Suaranya kali ini terdengar lebih berat.

“Beberapa hari lalu, salah satu tetua tidak sengaja menemukan jasad Guru Yang Lin dalam kondisi mengenaskan, tersembunyi di sebuah ruangan terlarang. Dari pemeriksaan yang dilakukan, ia diperkirakan telah tewas lebih dari sebulan lalu. Tapi yang membuat kami terkejut... saat terjadi serangan dari Shen Mo, para tetua bersumpah bahwa Guru Yang Lin berada di sana, berdiri bersama mereka. Namun setelah para tetua membawa jasad Ketua Sekte kembali, dia menghilang begitu saja. Sejak itu, tak ada yang melihatnya lagi.”

Tangan Leluhur kembali mengepal, kali ini seluruh lengannya bergetar menahan ledakan emosi yang nyaris tak bisa dibendung.

“Aku yakin, seseorang telah menyamar menjadi guru Yang Lin,” katanya dengan suara yang nyaris seperti geraman. “Karena itu, pelaku pencurian kunci dimensi itu, kemungkinan besar adalah penyamar itu, atau Xie Lian.”

Tiba-tiba, Leluhur mengangkat tangannya dan menghantam kursi kayu di sebelahnya. Suara retakan keras menggema di dalam ruangan. Kursi itu retak separuh, nyaris hancur. Matanya merah, dipenuhi dendam dan kesedihan yang tidak pernah padam.

Lynx menyerap semua informasi dengan saksama, lalu bertanya setelah merenung sejenak.

“Leluhur, mungkinkah Tetua Xie Lian dan Guru Yang Lin bekerja sama? Bukankah mereka menghilang di waktu yang hampir bersamaan?”

Leluhur mengangguk ringan, lalu menggeleng perlahan.

"Awalnya kami juga berpikir demikian, tapi ternyata ada salah satu murid yang melihat tetua Xie Lian berlari cepat menuruni bukit, Dari siluet tubuh dan gerakannya, dia yakin itu adalah tetua Xie dan dia sendirian." jawab Leluhur Sekte.

Ia berhenti sebentar, lalu menghela napas.

“Yang membuat semuanya semakin rumit... gulungan kertas warisan leluhur yang telah disimpan selama ribuan tahun juga ikut menghilang bersama Kunci Dimensi itu.”

Lynx menajamkan pendengarannya. Matanya menyipit, menunjukkan ketertarikan yang jelas.

“Gulungan kertas ribuan tahun? Gulungan apa itu, Leluhur?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Leluhur menggeleng perlahan, matanya terlihat redup sejenak.

“Sampai sekarang, tak seorang pun berhasil mengungkap makna dari gulungan tersebut. Bahkan ratusan tahun yang lalu, Senior Xiao Tang, yang dikenal sebagai ahli formasi tertinggi, tidak mampu membacanya. Ia hanya berkata bahwa gulungan kertas tersebut tidak biasa karena tidak rusak meski berusia ratusan tahun. Dia yakin pasti ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya... dan dia berpesan bahwa sebaiknya gulungan itu tidak jatuh ke tangan yang salah.”

Di tengah suasana tegang itu, Rira yang berada di samping Lynx tertawa didalam hati. Senyumannya muncul perlahan, dingin dan penuh sindiran.

"Terlambat kalian kalau baru menyadarinya sekarang," batinnya, bibirnya melengkung licik. "Wanita tua itu...Xie Lian... sudah menyatu dengan tanah. Tetapi kertas gulungan apa yang dia maksudkan. Aku harus melaporkan hal ini ke Nyonya."

Setelah hening sejenak, Leluhur melanjutkan, "Aku khawatir kalau kita sampai terlambat, Xie Lian akan menuju Kerajaan Jinghai dan membuka gerbang dimensi tempat fragmen itu tersegel. Dunia akan berada dalam bahaya jika senjata iblis berhasil dibangkitkan" ujar Leluhur dengan nada tegang. Alisnya mengernyit, dan matanya penuh kekhawatiran, seolah bayangan masa lalu mulai bangkit dari ingatannya.

Lynx melangkah maju dengan tenang. Ia mengeluarkan serpihan artefak dari cincin penyimpanan. Dengan nada serius, ia bertanya pelan sambil menatap Leluhur.

"Leluhur... apakah Anda mengenali benda ini?"

Begitu matanya tertuju pada pecahan tersebut, wajah Leluhur langsung berubah drastis. Napasnya tertahan, tubuhnya menegang, dan tatapannya dipenuhi keterkejutan yang sulit disembunyikan.

"Itu... itu kunci dimensi," gumamnya dengan suara tercekat. "Dari mana kau mendapatkan ini? Dan... kenapa bisa dalam keadaan hancur seperti ini?"

Suaranya bergetar, setengah tidak percaya dan setengah panik, seolah sebuah malapetaka yang seharusnya tidak mungkin terjadi telah menjadi nyata.

Lynx menatapnya lekat-lekat. “Jadi benar. Artefak yang hancur ini Ini kunci dimensi… Aku menemukanya di kerajaan Jinghai."

Leluhur terperanjat. Tubuhnya seketika bangkit dari tempat duduk, suaranya meninggi.

"Apa? Jinghai? Kau menemukannya di sana? Cepat katakan, di mana tepatnya kau menemukannya? Jelaskan dengan rinci!"

Nada suaranya menegang, napasnya memburu, dan sorot matanya menggali setiap inci ekspresi Lynx.

Tanpa ragu, Lynx menceritakan semuanya. Tentang formasi yang diberikan kepada teman-temannya agar dapat memberikan sinyal bahaya sehingga dia bisa mengetahuinya dan datang menolong saat teman-temannya dalam bahaya. Dan tadi malam, sinyal minta bantuan tersebut ternyata datang. Lynx menelusuri jejak tersebut hingga mencapai sebuah lapangan luas dengan penjagaan sangat ketat dan sinyal tersebut putus tepat di tengah lapangan. Di tengah tanah itu, serpihan artefak ini tergeletak dalam keadaan hancur dan di mengambilnya.

"Saya kemari setelah mengetahui jika kami berada di kerajaan Jinghai dan salah satu prajurit membicarakan mengenai kunci dimensi. Dan ternyata dugaan saya tepat, artefak ini ada hubungannya dengan sekte Api Langit.

Wajah Leluhur menggelap. Ia menghela napas berat, penuh penyesalan.

"Itu pasti lokasi segel ruang tempat fragmen Senjata Iblis disembunyikan. Aku tak menyangka Xie Lian sudah sejauh itu... Kita benar-benar kalah langkah."

Lynx mengepalkan tangan. Matanya bersinar redup menahan amarah dan kekhawatiran.

"Leluhur, Apakah masih ada cara lain untuk membuka gerbang dimensi ruang waktu tanpa kunci dimensi ini? aku harus menyelamatkan teman-temanku”

Sang leluhur menggeleng perlahan, wajahnya muram. “Maksudmu teman-temanmu terjebak didalam dimensi itu? Bagaimana mereka bisa berada didalam sana? Tidak... Tidak... Dimensi ruang waktu ditempat itu bukan ruang biasa. Dunia itu memiliki hukumnya sendiri dan kita tidak bisa memasuki tempat itu tanpa menggunakan kunci ini. Aku khawatir, teman-temanmu selamanya terkurung di tempat itu."

Lynx menunduk, rasa frustasi menghimpit dadanya. Tangannya mengepal erat, napasnya berat.

“Karim, Kael, Narendra, Arkha… Kemungkinan mereka yang terjebak di sana,” gumamnya. “Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa...”

Rira berdiri tak jauh, ekspresi khawatir terpahat di wajahnya, meski hanya kepura-puraan. Tapi Lynx tak memperhatikannya. Ia terlarut dalam pikirannya sendiri.

Dia bertekad apapun yang terjadi, dia akan menemukan cara untuk menyelamatkan teman-temannya.

